Home Diskusi Diskusi Fakultatif: Gotong Royong dalam Perspektif Psikologi Budaya

Diskusi Fakultatif: Gotong Royong dalam Perspektif Psikologi Budaya

308
0
SHARE

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas dakwah (BEM-FD) menggelar diskusi fakultatif yang di ikuti oleh mahasiswa psikologi IAI Tribakti Dan komunitas Srawung  Mahasiswa Psikologi Kediri kemarin pada Minggu 26 februari 2016 di kedung Baru IAIT Kediri yang  Di Hadiri Juga Oleh    Bapak Sunarno  S.Psi,M.A  Selaku pemateri dan sekaligus pakar Psikologi Sosial Jatim.

Beberapa poin yang bisa kami ambil dalam diskusi tersebut terkait dengan gotong royong yang dijadikan budaya oleh masyarakat Indonesia tentunya,entah di kota di desa di pesantren, di perusahaan dan lain sebagainya.
“mangan ora mangan sing penting ngumpul” merupakan sebuah pribahsasa orang jawa  yang khas dengan dimensi budaya kolektivitas, Gotong Royong, masihkah ada Budaya itu di desa kalian?Misalkan ketika tetangga punya “gawe” atau istilahnya punya hajatan kalian ikut membantu dengan ikhlas tanpa pamrih. Budaya ini juga mungkin masih banyak di inddonesia ini yang masih mengamalkanya walaupun hanya di pedesaan khususnya.

Sebelum kita berbicara jauh tentang budaya gotong royong, tidak ada salahnya kita mengerti apa itu budaya? Berbicara tentang budaya tidak lepas dari sebuah kelompok yang memiliki aturan aturan atau nilai nilai yang harus di lestarikan, budaya merupakan suatu sistem yang dinamis, eksplisit dan implisit yang didirikan oleh suatu kelompok yang meliputi sikap, keyakinan, nilai-nilai, norma dan perilaku. Jadi budaya merupakan  budaya yang di miliki suatu kelompok tertentu.

Secara Etimologi,gotong royong berasal dari bahasa jawa “gotong”dan “royong”.Gotong Berarti ngangkat,sedangkan Royong  itu awalnya dari kehidupan masyarakat petani tradisional.contohnya ketika seseorang menggarap sebuah sawah atau ladang.mereka memerlukan banyak tenaga kerja dari mulai mencangkul ,menanami benih, mengiringi hingga memanen.rasa sosial dan gotong royong nya akan terasa,hingga ketika memanen para masyarkat yang ikut membantu memanen ini akan mendapatkan hasilnya.secara linguistik,di setiap daeerah memiliki ciri khas tersendiri untuk penyebutan gotong royong.contohnya di daerah nganjuk dan sekitarnya ,gotong royong ini biasa di sebut dengan istilah soyo kemudian dimaduradengan long tinolong,di jawa tengah dengan sambatan,sementara di yogyakarta dengan gugur gunung.

Ada dua dimensi budaya secara umum, pertama individualis dan kedua kolektif. Kebudayaan individualis merupakan budaya dari orang orang barat, sedangkan budaya kolektivitas merupakan budaya khas orang timur. Individualis memiliki pola fikir yang linier, berbicara langsung, lugas, eksplisit dan ketika individu mempunyai potensi atau bakat, berhak untuk menonjolkan diri atau bisa diaktualisasikan diri, namun juga menghargai keunikan individu dan otonom.

Sedangkan kolektivitas diri(self) tidak bersifat unik atau otonom, melainkan melebur dalam kelompok tujuan kelompok lebih di utamakan dari pada kepentingan pribadi dan perilaku sosialnya beragam mengikuti norma kelompok. Contohnya tata krama dalam pesantren “Yen wacana kudu Manis, ora kena oleh segak, lan luwih becik ngempet” merupakan ciri khas orang kolektivitas ketika sedang bertentangan pendapat aau membenci seseorang, maka pilihanya adalah “Ngempet”. Namun dalam budaya individualis mereka langsung berkomentar skua tidak suka terhadap seseorang langsung di utarakan.

Dalam perspektif psikologi budaya gotong royong merupakan kumpulan individu dengan kelompok yang menjadikanya sebuah interaksi(seserawungan)yang melahirkan rasa sama yang berkembang menjadi rasa enak(sekaca) lalu rasa persatuan,dan kemudian muncul perilaku gotong royong.Rasa sama dalam psikologi sosial dapat dikaji dengan menggunakan teori identitas sosial.”kami menjadi kita “. Aku atau kami berarti  aku sedang bersama. Ujar Bapak Sunarno Selaku pemateri diskusi.(Anjar Az har Al Farobi).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here