Home Praktikum Kado Tugas di Akhir Tahun 2017, CFIT (Culture Fair Intelligence Test)

Kado Tugas di Akhir Tahun 2017, CFIT (Culture Fair Intelligence Test)

287
0
SHARE

Kediri- Tajuk wacana di akhir tahun 2017, bukan sekedar tema liburan untuk bermalas-malas, pula tidak untuk mengistirahatkan pena dan kertas-kertas, namun ada tugas yang harus dikerjakan sampai tuntas, oleh para mahasiswa/i Psikologi Islam Semester V yang berusaha melepas belenggu malas, yang kian hari memasung asa amat keras. Dalam menyambut liburan itu, Kami dihadiahi sebuah kado tugas yang menjadi prioritas, dalam mengisi nilai-nilai Ujian Akhir Semester (UAS) untuk tiga mata kuliah sekaligus, yaitu Psikologi Abnormal, Psikologi Belajar dan Psikologi Tes Intelegensi Bakat dan Minat. Adalah Wahyu Utami, M.Psi (biasa disapa Bu Wahyu) sebagai dosen pengampu tiga makul dimuka yang menitahkan kami untuk belajar mengadministrasikan sebuah alat tes inteligensi berupa CFIT (Culture Fair Intelligence Test) guna menambah pengalaman praktik psikologi kami.

Secara sederhana, CFIT merupakan salah satu dari beragam macam alat tes psikologi yang diperuntukan untuk mengukur inteligensi individu terutama dalam kemampuan analisis dan penalaran (fluid Intelligence). Alat tes ini diplopori oleh seorang psikolog kenamaan berbangsa inggris, yaitu Raymond Cattel.

Dan dalam upaya mengaplikasikan ilmu yang telah terpaparkan dan kami dapati dari tiga makul tersebut, titah Bu Wahyu pun kami jalani dalam mengarungi masa-masa liburan kami. Semua mahasiswa/i dibagi menjadi 12 kemlompok yang terdiri dari 3-4 orang, dan diberi kebebasan dalam memilih subyek penelitian namun diberi batas umur minimal kisaran anak SMA. Selain alat tes ini, mahasiswa diperbolehkan untuk mempergunakan metode penggalian data lain guna menyempurnakan keseluruhan data, ada wawanacara, obeservasi bahkan bahan-bahan kepustakaan. Hasil dari praktik alat tes CFIT dituangkan dalam sebuah karya poster yang dikumpulkan dua minggu setelah tugas diberikan.

“yang terpenting banyak memperoleh data-data, urusan teori pikir belakangan!” ujar bu Wahyu dalam memotivasi kami agar tidak terpaku dengan teori-teori psikologi, kami harus mengekspresikan setiap ilmu yang kami dapat bukan hanya ilmu-ilmu pada semester ini, bahkan kami kudu bisa mengeksplorasi seluruh ilmu sejak kami memasuki dunia psikologi di IAI Tribakti. Ok, Kami Siap!!!

Dua minggu berlalu, banyak cerita yang menghiasi perjalanan praktik CFIT ini, mulai dari kesulitan mencari subyek yang tepat, anggota kelompok yang silih berganti pulang ke kampung halaman, sampai kesukaran dalam memvisualisasi data dalam bentuk poster. Namun, semua ini bukan alasan untuk menyurutkan semangat kami, terbukti beberapa kelompok dapat mengumumpulkan tugas tepat waktu, ada yang menampilkan poster penanganan kasus retradasi mental, juga poster alur penangan kasus ketidakstabilan afirmasi dan moitvasi diri, masalah emosional quotient (EQ) pun tema-tema yang lain. Semoga bermanfaat, waallahu a’alam bishowwab! (KangRasun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here